contact
Test Drive Blog
twitter
rss feed
blog entries
log in

Minggu, 14 Maret 2010

Tiupan angin neo-liberalisme berhembus sangat kencang seiring dengan
gelombang globalisasi yang melanda dunia saat ini. Neoliberalisme juga
sungguh menakutkan. Paham ini terus bermetamorfosis dalam berbagai
bentuk karena manusia ingin merasakan kebebasan dalam kehidupan mereka.
Akibat dari menguatnya paham neo-liberal tersebut, muncullah
gerakan-gerakan pembebasan yang mengatasnamakan demokrasi, hak asasi
manusia (HAM), emansipasi kaum perempuan, dan sebagainya. Tapi, dalam perkembangannya, jilbab gaul ini
mengundang pro dan kontra karena jilbab semacam ini memperkenalkan
bentuk pakaian yang kurang lazim dipakai seorang Muslimah, yaitu jilbab
yang dililitkan ke leher, selanjutnya dipadukan dengan blus ketat,
celana jins ketat sehingga diharapkan menampilkan lekuk-lekuk tubuh
yang indah.Imam Raghib dalam al-Mufradat fii Gharib al-Qur‘an
mengartikan jilbab sebagai pakaian longgar yang terdiri dari baju
panjang dan kerudung yang menutupi badan, kecuali wajah dan telapak
tangan.
Marak di kampus Islam
Celakanya fenomena jilbab gaul ini juga melanda lembaga-lembaga
perguruan tinggi agama Islam, seperti yang terjadi di Universitas Islam
Negeri (UIN), terutama pascakonversinya dari IAIN ke UIN. Fenomena
jilbab gaul di UIN, contohnya, juga menguatkan dugaan sebagian orang
bahwa neoliberalisme juga sudah menggurita di perguruan-perguruan
tinggi agama Islam.
Akibatnya, banyak orang di luar UIN memandang negatif proses pendidikan
yang dikembangkan di UIN, yang dinilai kebarat-baratan, di mana nilai
dan norma-norma keislaman harusnya bisa ditegakkan dan bisa dikontrol
di perguruan tinggi agama Islam negeri. Akibatnya, banyak orang di luar UIN memandang negatif
proses pendidikan yang dikembangkan di UIN, yang dinilai
kebarat-baratan, di mana nilai dan norma-norma keislaman harusnya bisa
ditegakkan dan bisa dikontrol di perguruan tinggi agama Islam negeri. Sebagian yang lain memandang ada penyesatan di UIN.
Pandangan ini bisa saja benar dan bisa juga sangat salah, tergantung dari mana kita memandangnya.
UIN sebagaimana umumnya lembaga pendidikan Islam adalah jenis
pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat
dan semangat cita-cita untuk mengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik
yang tecermin dalam nama lembaganya maupun dalam kegiatan-kegiatan yang
diselenggarakan.Di samping itu, UIN sebagaimana lembaga pendidikan
Islam yang lain adalah jenis pendidikan yang memberikan perhatian dan
sekaligus menjadikan ajaran Islam sebagai pengetahuan atas program
studi yang diselenggarakan. Dengan begitu,
mengingat posisinya sebagai lembaga yang memikul tanggung jawab syiar
keislaman, sudah semestinya Islam ditempatkan sebagai sumber nilai oleh
orang-orang yang berada di dalam institusi tersebut.
Tapi, sebagaimana yang sudah penulis sampaikan, UIN maupun
lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lain, hanyalah korban dari paham
neoliberal yang sudah sangat menggurita di perguruan-perguruan tinggi
di negeri ini. Bisa jadi yang punah di UIN pada masa tersebut adalah
bidang-bidang studi keagamaan yang tidak lagi diminati oleh orang-orang
Islam sendiri, sementara orang-orang akan berbondong-bondong memilih
bidang studi non-keagamaan yang lebih menjanjikan peluang kerja.
Kalau demikian, masa depan jilbab syar’i di UIN makin lama akan makin
surut, sementara jilbab gaul makin diminati oleh orang-orang di
lingkungan UIN seiring sejalan dengan mati atau punahnya
program-program studi di UIN nanti. Jika sudah terjadi seperti itu,
sungguh sangat memprihatinkan nasib pendidikan agama Islam di negeri
ini di masa depan yang tak lagi mampu membendung pengaruh buruk dari
paham neoliberal.
Jilbab gaul hanyalah contoh pada hari ini, di samping maraknya
pemikiran liberal oleh alih-alih dan cendekiawan Islam di negeri ini.

oleh : Nasrul Azwar

Pengarang : Syamsul Kurniawan MR

0

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Followers